Beranda | Artikel
Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa
Jumat, 18 Agustus 2023

Bismillah.

Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam membangun kemajuan suatu negara. Kita menyadari bahwa mahasiswa dan kaum muda secara umum adalah golongan masyarakat yang menjadi harapan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu mereka.

Karena begitu besar kedudukan dan peranan anak muda inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan golongan pemuda yang taat kepada Allah dalam jajaran manusia istimewa yang mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis mengenai 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Dan salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam Al-Qur’an Allah juga mengisahkan sosok perjuangan anak muda yang disebut sebagai ashabulkahfi. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah. Orang-orang yang bertekad kuat dan berakidah tauhid sehingga tidak mau sedikit pun menujukan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,

فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا

“Maka mereka pun berkata, ‘Rabb kami adalah Rabb yang menguasai langit dan bumi, kami tidak akan menyeru/beribadah kepada ilah/sesembahan apa pun selain-Nya.”’ (QS. Al-Kahfi: 14)

Sementara tauhid merupakan sebab utama datangnya keamanan dan hidayah dari Allah. Karena kezaliman berupa syirik menjadi penghambat datangnya keberkahan dan penghalang taufik. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezalimam (syirik), mereka itulah orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah golongan orang yang akan selalu diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Untuk itulah dibutuhkan dakwah tauhid bagi mahasiswa guna membimbing mereka dalam membangun keyakinan dan ibadah kepada Rabbnya. Karena kelak di akhirat mereka juga akan ditanya tentang masa mudanya, untuk apa mereka manfaatkan. Tauhid menjadi materi pokok dalam kurikulum pelajaran kaum muslimin sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah hingga akhir hayatnya. Inilah kunci perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taght.’” (QS. An-Nahl: 36)

Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus Santri

Bangsa yang besar adalah mereka yang membesarkan Rabbnya. Mereka yang menyadari bahwa kemerdekaan dan kenikmatan yang mereka rasakan semuanya datang dari Allah, bukan semata-mata hasil jerih payah dan kerja keras atau perjuangan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh murni dengan berkat rahmat Allah Rabb penguasa langit dan bumi atas penduduk negeri ini. Kalau bukan dengan pertolongan dari Allah, maka kita tidak akan mampu mengusir para penjajah!

Bangsa yang besar bukanlah semata-mata dengan kekuatan militer atau ekonomi dan kemajuan materi. Betapa banyak negeri yang hancur akibat rusaknya moral dan runtuhnya akhlak para penduduknya. Lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah binasakan dan turunkan untuk mereka azab dari langit. Mereka adalah kaum-kaum yang durjana dan durhaka kepada Rabbnya. Walaupun secara kekuatan pasukan, persenjataan, dan materi mereka tergolong negara adidaya.

Inilah kekuatan mental dan semangat iman yang perlu selalu ditanamkan pada diri mahasiswa muslim dan generasi muda harapan bangsa. Karena negeri ini tegak di atas pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana bisa umat Islam mendambakan keadilan untuk masyarakat, sementara mereka justru menyuburkan syirik dan penghambaan kepada selain Allah yang itu merupakan bentuk kezaliman yang paling besar?!

Inilah nasihat ayah teladan bernama Luqman kepada anaknya. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan sedang memberikan nasihat untuknya, ‘Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik benar-benar sebuah kezaliman yang sangat besar.’” (QS. Luqman : 13)

Kemerdekaan ini jelas merupakan nikmat dari Allah yang wajib untuk kita syukuri. Dan syukur merupakan bagian dari ajaran tauhid yang sangat mulia. Sebagaimana bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawan dan pendahulunya, maka tidaklah disebut bangsa yang besar apabila tidak bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat untuk mereka.

Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah. Dengan demikian, syukur itu mencakup segala bentuk amal ketaatan. (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 220)

Apabila diperjelas lagi, hakikat syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana firman Allah,

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا

“Lakukanlah amal wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’ : 13)

(lihat Al-Lubab fi At-Tafsir oleh Syekh Sulaiman Al-Lahim, hal. 217)

Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah yang bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman,

وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Sesungguhnya yang beribadah kepada-Nya adalah yang bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada-Nya berarti dia bukan termasuk golongan orang yang beribadah kepada-Nya.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 222)

Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melewati seorang pemuda yang sedang melirik (menggoda) seorang wanita dengan kedipan matanya, maka beliau pun berkata kepadanya, “Wahai anak muda, bukan seperti ini caranya membalas nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 246)

Apabila kaum mahasiswa dan generasi muda telah dibina untuk bersyukur kepada Allah, taat kepada aturan dan perintah-Nya, maka itu menjadi pertanda kemajuan dan kemuliaan sebuah negara. Adapun apabila anak muda diajari untuk berfoya-foya dan melalaikan kaidah agama, maka itu menjadi pertanda kemunduran dan hancurnya sebuah bangsa. Wallahul musta’aan.

Baca juga: Tugas dan Peran Pemuda Muslim terhadap Diri, Agama, dan Masyarakat

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.


Artikel asli: https://muslim.or.id/87191-peran-dakwah-mahasiswa-terhadap-pembentukan-karakter-bangsa.html